
Kota Bandung, tempat dimana orang-orang berdatangan untuk memuaskan hasrat mereka belanja, traveling, kuliner, serta berbagai hobi lain yang mungkin bisa di nikmati di kota Bandung. Namun ada satu hal buruk yang sejak dulu yang sangat tersohor di kalangan warga Bandung sendiri maupun luar kota. Saritem (Inti hitam), sebuah tempat kotor di kota Bandung yang terkenal karna bisnis prositusinya.
Banyak versi cerita mengenai asal mula tempat ini, ada yang mengatakan Saritem adalah nama seorang penjaga warung pada saat jaman penjajahan belanda, karna para pekerja tak hanya membutuhkan makan dan minum saja, akhirnya ia pun mulai menawarkan menu lain di warungnya yaitu pemuas birahi. Lalu ada juga yang mengatakan, pada masa kolonial Belanda, para tentara Belanda yang jauh dari istri-istri mereka merasa belum terpenuhi kebutuhan biologisnya. Jadi mereka mencari alternatif lain dengan mencari wanita yang mau jadi pelampiasan nafsu-nafsu mereka.
Dan wanita itu bernama Saritem, saritem adalah seorang pedagang jamu gendong yang mau dijadikan pelampiasan nafsu bejat para lelaki hidung belang itu. Dikarenakan saritem hanya sendirian dan merasa tak mampu melayani berpuluh-puluh tertara Belanda, akhirnya saritem pun mencari wanita-wanita yang mau dipekerjakan sebagai wanita Pekerja Seks Komersial. Dari situlah mulai berkembangnya bisnis haram ini.
Karna tersohornya saritem, sampai-sampai banyak orang dari luar Kota Bandung berdatangn ke sana untuk menjadi salah satu pekerjanya. Namun kini, Saritem tidaklah seterkenal dulu karna tempat prostitusinya. Tapi kini terkenal oleh Pondok Pesantren yang ada di sana, Daar Al Taubah Al Islami adalah nama pesantren yang berdiri tepat di pintu masuk Saritem.
Lahirnya ide pendirian pesantren di lembah hitam Saritem yang terletak di Kelurahan Kebun Jeruk, Kecamatan Andir, Bandung, itu bermula dari reaksi penentangan terhadap keberadaan lokalisasi itu. Sejak awal Februari lalu, Gerakan Amar Ma'ruf Nahi Munkar (Gamnakar) Bandung, melakukan demo di Saritem. Buntutnya, Pemda Kodya kemudian memerintahkan satpol pamong praja untuk menyegel rumah-rumah para germo guna menghindari bentrokan. Melihat aksinya berhasil, aktivis Gamnakar lantas memasang berbagai spanduk 'perang' kepada para WTS dan germo. WTS dan germo kembali, umat Islam beraksi, WTS dan germo bertahan umat Islam menyerang, mari berjihad sampai kemaksiatan musnah, demikian antara lain bunyi spanduk di mulut jalan Saritem.
Munculnya reaksi-reaksi itu, menggugah KH Imam Sonhaji, ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Bandung untuk mendirikan pesantren di Saritem. Namun ia malah dituding gila, karena memimpikan berdirinya pesantren di lokalisasi Saritem yang telah eksis sejak 100 tahun. Ia kemudian melakukan lobi kepada Pemda Kodya Bandung. Ternyata gayung bersambut, pihak Pemda bersedia mengucurkan dana APBD sebesar Rp 430 juta untuk keperluan itu.
Selanjutnya, beberapa orang kepercayaan Imam meluncur ke Saritem dan melirik sebuah bangunan berlantai dua milik seorang germo. Dan bak telah direncanakan, tak ada kesulitan berarti dalam melobi pembeliannya, karena Ny Uci sang germo pemiliknya telah insyaf sepulang dari tanah suci. Bangunan seluas 250 meter persegi itupun kemudian dijualnya seharga Rp 380 juta. Tapi sekitar 100 germo yang ada di Saritem kebakaran jenggot dan buru-buru membuat rapat di salah satu rumah germo. Hasilnya, mereka sepakat mengumpulkan uang untuk membeli rumah Ny Uci dengan harga dua kali lipat. Namun Ny Uci menolak tawaran dari para mucikari yang gelisah lahan 'bisnisnya' bakal tergusur.
Ancaman pun sempat terdengar dari para germo, antara lain mereka akan merusak bangunan pesantren yang tengah direhab. Tapi Ahmad Dasuki, Ketua I GP Ansor Kodya Bandung, balik mengancam akan mengerahkan 7.000 anggota Banser bila ada yang coba-coba mengganggu pendirian pondok pesantren itu. Karena kendala berhasil dilewati, rumah itu pun kemudian direhabilitasi dalam waktu satu minggu. Tanggal 2 Mei lalu, pesantren itu diresmikan oleh Walikota Bandung, AA Tarmana. Peresmian di gang sempit itu, dihadiri tak kurang oleh 2.000 ibu-ibu dari berbagai pengajian di Kota Bandung, membuat Saritem yang biasanya dihadiri para wanita berpenampilan seronok, berubah menjadi lautan kerudung.
Pesantren ini tak hanya menerima santri dari lingkungan sekitar, namun dari mana saja bisa di terima di Pondok Pesantren Daar Al Taubah Al Islami. Awalnya memang banyak orang tua santri dari luar kota yang meragukan bagaimana kehidupan pesantren di lingkungan kotor seperti itu, namun pengurus pesantren mampu meyakinkan para orang tua yang khawatir akan mental anaknya.
Berdirinya pesantren ini tak seketika membawa perubahan, namun membawa kebahagiaan bagi warga yang tidak bergelut di bisnis haram disana dan perlahan namun pasti kehadiran pesantren disana membuat sadar sebagian pelaku bisnis haram disana. Tak sedikit orang tua di sana yang khawatir akan lingkungan sekitar rumahnya, pergaulan yang dapat merusak generasi muda disana membuat orang tua enggan mengijinkan anaknya bermain di sekitar rumah. Namun saat pesantren itu di dirikan, para orang tua merasa lega karna ada tempat bagi anaknya bermain dan juga menuntut ilmu akhirat.
Dengan berdirinya Daarut Taubah sedikitnya membawa pengaruh baik dimata masyarakat yang memandang negatif pada kawasan ini, maupun dari segi akhlaq para penduduknya. Yakni dengan berbagai kegiatan yang diselenggarakan pesantren dapat disambut baik. Seperti menyampaikan berbagai ilmu agama melalui tehnik-tehnik tertentu.
Penyampaiannya melalui 2 metode dakwah, yang pertama yakni dengan diawali melalui akhlaq-akhlaq yang ditonjolkan baik para santri maupun pengajar yang berada di pesantren. Yang kedua yakni melalui lisan. Melalui lisan dilakukan dengan metode dakwah ataupun pengajian rutin yang sering digelar.
Pengajian setiap minggu adalah salah satu kegiatan rutin yang di adakan di pesantren Daar Al Taubah Al Islami, hal ini berdampak positif. Pengajian itu selain dihadiri oleh ibu-ibu dari saritem dan daerah sekitar saritem juga di hadiri oleh wanita-wanita muda yang biasa mangkal di saritem. Hal ini membuat banyak wanita malam mau meninggalkan bisnis haram itu, bahkan tak sedikit PSK yang menitipkan anaknya supaya di didik akhlaknya oleh pengurus pesantren karna PSK pun tak mau jika anaknya terjerumus dalam lubang hitam itu.
Saat pesantren diresmikan, KH Imam Sonhaji mengumumkan bahwa pihaknya hanya bisa menerima 50 santri dari 100 orang yang mendaftar. Ke-50 santri yang dipilih mondok, rata-rata berusia di bawah 16 tahun, agar tak mudah terpengaruh oleh kehidupan di sekitarnya. Kepada orangtua santri yang hendak memondokkan anaknya di Daar Al Taubah, Imam mengharapkan agar bersabar menunggu perluasan pesantren.
Dikonfirmasi perihal perluasan pesantren, Imam mengatakan rencana itu akan dilakukan secara bertahap, sebab bangunan yang ada saat ini hanya seperdelapan dari syarat minimal luas sebuah pesantren. Jika perluasan pesatren bisa terus dilaksanakan, sebagian besar kamar mesum disana bisa terkena imbas dan berdampak berkurangnya tempak praktek prostitusi.
Oleh Imam, pengelolaan pesantren dipercayakan kepada dua ulama muda, yaitu KH Toto Al Ghifari (32), alumnus Ponpes Manon Jaya Tasikmalaya dan Ustadz Asep Dodo Mardiana (27), alumnus Ponpes Darussalam Gontor. Kedua figur inilah yang mengajarkan ilmu tradisional dan modern. Antara lain takhasus diniyah/pengajian kitab kuning, bahasa Arab, bahasa Inggris, majelis taklim, mudzakarah/Istigotsah dan TKA/TPA.
Metode pembelajaran yang tidak monoton dan bersifat modern, menjadi daya tarik tersendiri bagi santri dan juga siapapun yang ingin belajar disana. Pengajian yang di adakan di sana pun tak hanya mengundang penceramah lokal saja, bahkan sering kali yang di undang adalah penceramah yang terkenal di Jawa Barat maupun terkenal di kalangan nasional, hal ini menimbulkan ketertarikan bagi warga sekitar.
Untuk mewaspadai berbagai kemungkinan yang tak diinginkan, setiap malam lima anggota Banser bertandang ke pesantren. Aktivis Gamnakar, FKPPI, aparat Polsek Kecamatan Andir, dan petugas kecamatan, juga sering mengunjungi ponpes itu, bahkan mereka sering shalat Jumat di pesantren. Yang membuat pengurus lebih gembira, ternyata beberapa germo yang buka praktik bersebelahan dengan bangunan pesantren, secara sukarela mulai menyingkir.
Mereka kemudian menawarkan kepada pengurus ponpes untuk menjebol dindingnya agar menyatu dengan bangunan ponpes. Namun kendala di masalah dana menyeabkan terhambatnya perluasan pesantren.
Keberadaan pesantren yang dahulu di tolak oleh para PSK dan mucikari, kini menjadi penawar racun yang menggerogoti akhlak mereka, dulu santri ataupun yang akan belajar ilmu agama sering di goda dan terkadang di cela, namun kini para PSK dan juga germo malah tersenyum kala melihat ada santri ataupun yang akan pergi mengaji di pesantren.
Diharapkan kelak,gang Saritem yang dulunya tempat prostitusi terbesar di Jawa Barat bisa menjadi gang santri yang memutus tradisi prostitusi yang ada. Bukan hal yang mustahil, karna di pulau jawa sendiri ada Pondok Pesantren Gontor juga Pondok Pesantren Tebu Ireng yang sangat terkenal bahkan sampai internasional dan tak banyak yang tahu bahwa dahulunya tempat mereka berdiri dulunya adalah tempat kotor seperti Saritem.
Setiap Rupiah yang anda sumbang, membantu umat membrantas prostitusi.
Banyak versi cerita mengenai asal mula tempat ini, ada yang mengatakan Saritem adalah nama seorang penjaga warung pada saat jaman penjajahan belanda, karna para pekerja tak hanya membutuhkan makan dan minum saja, akhirnya ia pun mulai menawarkan menu lain di warungnya yaitu pemuas birahi. Lalu ada juga yang mengatakan, pada masa kolonial Belanda, para tentara Belanda yang jauh dari istri-istri mereka merasa belum terpenuhi kebutuhan biologisnya. Jadi mereka mencari alternatif lain dengan mencari wanita yang mau jadi pelampiasan nafsu-nafsu mereka.
Dan wanita itu bernama Saritem, saritem adalah seorang pedagang jamu gendong yang mau dijadikan pelampiasan nafsu bejat para lelaki hidung belang itu. Dikarenakan saritem hanya sendirian dan merasa tak mampu melayani berpuluh-puluh tertara Belanda, akhirnya saritem pun mencari wanita-wanita yang mau dipekerjakan sebagai wanita Pekerja Seks Komersial. Dari situlah mulai berkembangnya bisnis haram ini.
Karna tersohornya saritem, sampai-sampai banyak orang dari luar Kota Bandung berdatangn ke sana untuk menjadi salah satu pekerjanya. Namun kini, Saritem tidaklah seterkenal dulu karna tempat prostitusinya. Tapi kini terkenal oleh Pondok Pesantren yang ada di sana, Daar Al Taubah Al Islami adalah nama pesantren yang berdiri tepat di pintu masuk Saritem.
Lahirnya ide pendirian pesantren di lembah hitam Saritem yang terletak di Kelurahan Kebun Jeruk, Kecamatan Andir, Bandung, itu bermula dari reaksi penentangan terhadap keberadaan lokalisasi itu. Sejak awal Februari lalu, Gerakan Amar Ma'ruf Nahi Munkar (Gamnakar) Bandung, melakukan demo di Saritem. Buntutnya, Pemda Kodya kemudian memerintahkan satpol pamong praja untuk menyegel rumah-rumah para germo guna menghindari bentrokan. Melihat aksinya berhasil, aktivis Gamnakar lantas memasang berbagai spanduk 'perang' kepada para WTS dan germo. WTS dan germo kembali, umat Islam beraksi, WTS dan germo bertahan umat Islam menyerang, mari berjihad sampai kemaksiatan musnah, demikian antara lain bunyi spanduk di mulut jalan Saritem.
Munculnya reaksi-reaksi itu, menggugah KH Imam Sonhaji, ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Bandung untuk mendirikan pesantren di Saritem. Namun ia malah dituding gila, karena memimpikan berdirinya pesantren di lokalisasi Saritem yang telah eksis sejak 100 tahun. Ia kemudian melakukan lobi kepada Pemda Kodya Bandung. Ternyata gayung bersambut, pihak Pemda bersedia mengucurkan dana APBD sebesar Rp 430 juta untuk keperluan itu.
Selanjutnya, beberapa orang kepercayaan Imam meluncur ke Saritem dan melirik sebuah bangunan berlantai dua milik seorang germo. Dan bak telah direncanakan, tak ada kesulitan berarti dalam melobi pembeliannya, karena Ny Uci sang germo pemiliknya telah insyaf sepulang dari tanah suci. Bangunan seluas 250 meter persegi itupun kemudian dijualnya seharga Rp 380 juta. Tapi sekitar 100 germo yang ada di Saritem kebakaran jenggot dan buru-buru membuat rapat di salah satu rumah germo. Hasilnya, mereka sepakat mengumpulkan uang untuk membeli rumah Ny Uci dengan harga dua kali lipat. Namun Ny Uci menolak tawaran dari para mucikari yang gelisah lahan 'bisnisnya' bakal tergusur.
Ancaman pun sempat terdengar dari para germo, antara lain mereka akan merusak bangunan pesantren yang tengah direhab. Tapi Ahmad Dasuki, Ketua I GP Ansor Kodya Bandung, balik mengancam akan mengerahkan 7.000 anggota Banser bila ada yang coba-coba mengganggu pendirian pondok pesantren itu. Karena kendala berhasil dilewati, rumah itu pun kemudian direhabilitasi dalam waktu satu minggu. Tanggal 2 Mei lalu, pesantren itu diresmikan oleh Walikota Bandung, AA Tarmana. Peresmian di gang sempit itu, dihadiri tak kurang oleh 2.000 ibu-ibu dari berbagai pengajian di Kota Bandung, membuat Saritem yang biasanya dihadiri para wanita berpenampilan seronok, berubah menjadi lautan kerudung.
Pesantren ini tak hanya menerima santri dari lingkungan sekitar, namun dari mana saja bisa di terima di Pondok Pesantren Daar Al Taubah Al Islami. Awalnya memang banyak orang tua santri dari luar kota yang meragukan bagaimana kehidupan pesantren di lingkungan kotor seperti itu, namun pengurus pesantren mampu meyakinkan para orang tua yang khawatir akan mental anaknya.
Berdirinya pesantren ini tak seketika membawa perubahan, namun membawa kebahagiaan bagi warga yang tidak bergelut di bisnis haram disana dan perlahan namun pasti kehadiran pesantren disana membuat sadar sebagian pelaku bisnis haram disana. Tak sedikit orang tua di sana yang khawatir akan lingkungan sekitar rumahnya, pergaulan yang dapat merusak generasi muda disana membuat orang tua enggan mengijinkan anaknya bermain di sekitar rumah. Namun saat pesantren itu di dirikan, para orang tua merasa lega karna ada tempat bagi anaknya bermain dan juga menuntut ilmu akhirat.
Dengan berdirinya Daarut Taubah sedikitnya membawa pengaruh baik dimata masyarakat yang memandang negatif pada kawasan ini, maupun dari segi akhlaq para penduduknya. Yakni dengan berbagai kegiatan yang diselenggarakan pesantren dapat disambut baik. Seperti menyampaikan berbagai ilmu agama melalui tehnik-tehnik tertentu.
Penyampaiannya melalui 2 metode dakwah, yang pertama yakni dengan diawali melalui akhlaq-akhlaq yang ditonjolkan baik para santri maupun pengajar yang berada di pesantren. Yang kedua yakni melalui lisan. Melalui lisan dilakukan dengan metode dakwah ataupun pengajian rutin yang sering digelar.
Pengajian setiap minggu adalah salah satu kegiatan rutin yang di adakan di pesantren Daar Al Taubah Al Islami, hal ini berdampak positif. Pengajian itu selain dihadiri oleh ibu-ibu dari saritem dan daerah sekitar saritem juga di hadiri oleh wanita-wanita muda yang biasa mangkal di saritem. Hal ini membuat banyak wanita malam mau meninggalkan bisnis haram itu, bahkan tak sedikit PSK yang menitipkan anaknya supaya di didik akhlaknya oleh pengurus pesantren karna PSK pun tak mau jika anaknya terjerumus dalam lubang hitam itu.
Saat pesantren diresmikan, KH Imam Sonhaji mengumumkan bahwa pihaknya hanya bisa menerima 50 santri dari 100 orang yang mendaftar. Ke-50 santri yang dipilih mondok, rata-rata berusia di bawah 16 tahun, agar tak mudah terpengaruh oleh kehidupan di sekitarnya. Kepada orangtua santri yang hendak memondokkan anaknya di Daar Al Taubah, Imam mengharapkan agar bersabar menunggu perluasan pesantren.
Dikonfirmasi perihal perluasan pesantren, Imam mengatakan rencana itu akan dilakukan secara bertahap, sebab bangunan yang ada saat ini hanya seperdelapan dari syarat minimal luas sebuah pesantren. Jika perluasan pesatren bisa terus dilaksanakan, sebagian besar kamar mesum disana bisa terkena imbas dan berdampak berkurangnya tempak praktek prostitusi.
Oleh Imam, pengelolaan pesantren dipercayakan kepada dua ulama muda, yaitu KH Toto Al Ghifari (32), alumnus Ponpes Manon Jaya Tasikmalaya dan Ustadz Asep Dodo Mardiana (27), alumnus Ponpes Darussalam Gontor. Kedua figur inilah yang mengajarkan ilmu tradisional dan modern. Antara lain takhasus diniyah/pengajian kitab kuning, bahasa Arab, bahasa Inggris, majelis taklim, mudzakarah/Istigotsah dan TKA/TPA.
Metode pembelajaran yang tidak monoton dan bersifat modern, menjadi daya tarik tersendiri bagi santri dan juga siapapun yang ingin belajar disana. Pengajian yang di adakan di sana pun tak hanya mengundang penceramah lokal saja, bahkan sering kali yang di undang adalah penceramah yang terkenal di Jawa Barat maupun terkenal di kalangan nasional, hal ini menimbulkan ketertarikan bagi warga sekitar.
Untuk mewaspadai berbagai kemungkinan yang tak diinginkan, setiap malam lima anggota Banser bertandang ke pesantren. Aktivis Gamnakar, FKPPI, aparat Polsek Kecamatan Andir, dan petugas kecamatan, juga sering mengunjungi ponpes itu, bahkan mereka sering shalat Jumat di pesantren. Yang membuat pengurus lebih gembira, ternyata beberapa germo yang buka praktik bersebelahan dengan bangunan pesantren, secara sukarela mulai menyingkir.
Mereka kemudian menawarkan kepada pengurus ponpes untuk menjebol dindingnya agar menyatu dengan bangunan ponpes. Namun kendala di masalah dana menyeabkan terhambatnya perluasan pesantren.
Keberadaan pesantren yang dahulu di tolak oleh para PSK dan mucikari, kini menjadi penawar racun yang menggerogoti akhlak mereka, dulu santri ataupun yang akan belajar ilmu agama sering di goda dan terkadang di cela, namun kini para PSK dan juga germo malah tersenyum kala melihat ada santri ataupun yang akan pergi mengaji di pesantren.
Diharapkan kelak,gang Saritem yang dulunya tempat prostitusi terbesar di Jawa Barat bisa menjadi gang santri yang memutus tradisi prostitusi yang ada. Bukan hal yang mustahil, karna di pulau jawa sendiri ada Pondok Pesantren Gontor juga Pondok Pesantren Tebu Ireng yang sangat terkenal bahkan sampai internasional dan tak banyak yang tahu bahwa dahulunya tempat mereka berdiri dulunya adalah tempat kotor seperti Saritem.
Setiap Rupiah yang anda sumbang, membantu umat membrantas prostitusi.






0 komentar:
Posting Komentar