Minggu, 12 Oktober 2014

Hati


Mimpi itu mengembalikan semangat dan juga keceriaan Janoko, Janoko sudah menemukan kembali dirinya yang dulu. Hubungannya dengan semua temannya membaik, Mira pun bisa kembali merasakan senyum hangat Janoko dan hubungan mereka pun semakin dekat.
Hari-hari mereka lewati penuh kebahagiaan, hingga tiba saat nya ujian akhir bagi Mira.
“Besok adalah hari yang sangat menentukan untuk ku , apakah kelak aku akan menangis, atau aku akan tersenyum bahagia.”Ucap Mira sambil bersandar di bahu Janoko.
“Tak perlu kau risau akan datangnya sebuah ujian, sebuah ujian bukan yang menentukan bagaimana kau nanti. Jika semua usaha yang kau lakukan sudah kau rasa maksimal, tuhan pun akan memberikan jalan yang selebar-lebarnya.”Ucap Janoko.
Tiba-tiba Janoko terdiam.
Sebuah ingatan masa lalu tentang seorang wanita tiba-tiba datang.
“Mira, aku pergi dulu ya entah kenapa aku tiba-tiba ngga enak badan.”Ucap Janoko.
Janoko pergi meninggalkan Mira dengan perasaan gundah, Mira merasa ada yang aneh dengan Janoko dan berniat untuk mengikutinya, namun.
“Mir, tunggu...” Ujar Dida teman sekelas Mira.
“Ada apa Da?”Tanya Mira
“Katanya mau belajar bersama, itu anak-anak udah nunggu kamu di rumah Indra.” Ujar Dida.
“Oh iya, ya udah ayo berangkat”. Ucap Mira.
Mira akhirnya mengurungan niatnya mengikuti Janoko.
Janoko terus berjalan namun ia berjalan bukan ke arah tempat tinggalnya, malah mengarah ke sebuah taman. Dia duduk di bawah sebuah pohon sambil menatap langit dan bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang membuatnya terbawa ke tempat itu.
Dari kejauhan terdengar sebuah percecokan antara lelaki dan wanita.
“Lu jangan kecakepan dan jangan munafik deh, gua tau lo tuh suka ama gua. Tinggal lo nurut aja ama gua dan kita pacaran.”Ucap seorang lelaki.
“Ngga, aku ngga mau ama kamu. “ Ujar seorang wanita.
“Ahhhh gua ngga tahan liat body lo yang tinggi sexy. Biar gua lakuin apa yang gua mau. Disini jarang banget ada orang jadi gua bisa lakuin apapun ama lo.” Ancam Laki-laki.
Janoko berlari mencari asal suara itu. Di kejauhan terlihat wanita yang tak asing untuk Janoko, dan Janoko langsung berlari menghampirinya.
Perkelahian terjadi antara Janoko dan lelaki itu, Janoko yang tak mengenal orang itu tak segan menghajar orang itu dan membuat banyak luka di tubuh dan wajah lelaki itu.
“Berani lo nyentuh dia, ngga segan gua abisin lo bangsat.” Amarah Janoko memuncak dan terus hajar lelaki itu hingga pingsan.
“Kamu ngga papa?” tanya Janoko pada wanita itu.
“Aku ngga papa, kamu kenapa lakuin hal itu lagi Noko?” Tanya wanita itu sambil menangis
“Mengertilah, aku tak bisa melihat kau tersakiti oleh siapapun, aku tak kuasa menahan amarah jika wanita yang kusayangi di sakiti seorang lelaki.” Tegas Janoko.
“Tapi ngga usah sampe gitu Noko, kamu bisa kena masalah kalo kayak gini.”Ujar wanita itu.
“Aku tak peduli apapun yang akan terjadi padaku, asalkan kamu ngg papa Ra. Aku sayang kamu Sembadra, jangan larang aku menghajar orang yang berani mengganggumu.”Ucap Janoko.
"Gimana kamu bisa disini Janoko, tempat ini kan jauh dari tempatmu?tanya Ara"
"Aku pun tak tau, aku merasa tak enak hati dan tiba-tiba aku berjalan dan sampai disini, mungkin cinta ku padamu terlalu besar sampai aku bisa merasakan jika kau sedang terancam dan akhirnya hatiku membawaku kesini.."Ucap Janoko
Janoko tak sadar sebuah masalah besar telah menghadangnya. Sebuah cinta tak harus berlebihan, karna hal apapun yang berlebihan pastilah tak baik.


Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar