Mira terdiam melihat Janoko di peluk Palastri, Janoko
mencoba melepaskan pelukan itu.
“Mira kamu salah paham, Lastri lepasin!” Ucap Janoko sambil menahan amarahnya pada Palastri.
“Mira kamu salah paham, Lastri lepasin!” Ucap Janoko sambil menahan amarahnya pada Palastri.
Mira perlahan meninggalkan ruang kesehatan tanpa berucap apa
pun.
“Lastri, kamu apa-apaan sih lepasin aku.” Bentak Janoko.
“Aku ngga mau ngelepasin kamu, aku mau kau jadi
milikku.”Tegas Palastri.
“Kamu ngg sayang sama aku, kamu Cuma ingn memiliki ku. Kamu
Cuma terobsesi bukan ingin menyayangi atau pun mencintai, bulshit kamu sayang
sama aku kalo kamu kayak gini. Harusnya orang yang kamu sayang itu kamu jaga
dan kamu mau berusaha untuk membuat bahagia, tapi tak harus memiliki. Aku pun
menyayangimu Lastri, namun hanya sebatas teman.”Tegas Janoko.
“Tapi aku ingin bersamamu, aku ingin terus bersamamu Noko.
Aku akan lakuin apapun untuk bisa terus bersamamu.”Ucap Palastri sambil
menangis.
“Tak harus kau miliki aku pun kamu tetap bisa bersamaku. Aku
hanya milik tuhanku karna satu-satunya cinta suci hanya bisa ku dapat darinya.
Aku akan selalu ada untukmu asalkan aku sedang tak sibuk, hidup ini bukan hanya
tentang orang yang kita cintai tapi masih banyak hal yang belum kamu liat
Lastri. Mengertilah dan usap air mata yang membasahi pipi manismu itu, kamu itu
cantik jangan sia-siakan paras cantikmu hanya untuk menangisi ku, jika kamu
inginkan aku menjadi milikmu maka buatlah aku merasa bahagia dekatmu dan aku
mencintaimu lebih dari sekedar teman.”Ujar Janoko sambil tersenyum.
Palastri pun mengerti akan apa yang Noko katakan.
” Baiklah, aku akan buktikan pada mu aku menyayangimu dan
aku akan membuatmu menyayangiku lebih dari kau menyayangi Mira sekarang.”Ujar
Palastri.
“Oh iya, bicara masalah Mira kamu harus jelasin ke dia apa
yang sebenarnya terjadi di antara kita.”Ucap Janoko.
Setelah bel pulang sekolah Janoko dan Palastri menunggu Mira
di gerbang sekolah.
“Mir,,, Mira... tunggu!” teriak Janoko.
Namun Mira seolah menghindarinya, namun Janoko dan Palastri
mengejarnya hingga akhirnya bisa menghadang Mira.
“Teh maaf, mungkin teteh salah sangka tentang yang tadi,
bukan Janoko yang peluk aku tapi aku yang peluk dia.” Ujar Palastri.
“Terus., aku harus pedulia gitu ama kalian, kalian mau
gimana pun itu masalah kalian, terserah kalian mau ngapain juga.”Jawab Mira.
“Aku tau teteh peduli sama Janoko, aku tau teteh ngga mau
kehilangan Janoko, kalo teteh ngga peduli sama kita, kenapa kemaren teteh
ngehentiin aku pas mau coba melakukan hal intim ke Janoko”. Ujar Palastri.
Janoko terdiam mendengar pernyataan Palastri dan
bertanya-tanya dalam hati apa maksudnya hubungan intim.
Hujan pun turun, Mira hanya terdiam tanpa kata dan Janoko
coba menjelaskan keadaan yang tengah menimpanya tiba-tiba Mira mendekati Janoko
dan membisikan sebuah kalimat di telinga Janoko.
“Aku sayang kamu, aku ngga mau kamu sakit, aku ngga mau kamu
bermesraan ama cewek lain.”Bisik Mira.
Tiba-tiba suara gemuruh petir mengagetkan Mira dan langsung
memeluk Janoko.
Mereka saling bertatapan dan tiba-tiba Janoko mencium kening
Mira.
“Aku sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu, sebotol
air yang kau berikan menjadi pemicu rasa cinta ini.”Ujar
Mira memeluk Janoko semakin erat.
“ Sebentar lagi aku ujian akhir, dan aku harap aku bisa
lulus dengan baik. Aku ngga bisa pacaran Noko buat saat ini.”Ucap Mira.
“Ehh emang siapa yang ngajak pacaran ? PD banget ih aku
ngajak pacara juga ngga hehe.” Ucap Janoko sambil menjulurkan lidahnya.
Mira merasa malu mendengar itu .
“Oh jadi kamu ngga mau pacaran ama aku, ya udah lupain aja
apa yang aku bilang tadi.” Mira manyun.
“Hehe ngga mungkin aku ngga mau, aku ngerti ko keadaan kamu
sekarang, kita jalani aja dulu semua ini seperti biasa ngga perlu jadi sebuah
beban, pada dasarnya menyayangi seseorang bukanlah untuk jadi beban dalam hati,
tapi jadi mood boster hati.”Ujar Janoko.
Janoko dan Mira yang sedang bermesraan lupa di sana ada
palastri yang menangis melihat mereka.
Bersambung....






0 komentar:
Posting Komentar