Kamis, 16 Oktober 2014

Mirajane Luci Fitria

Persidangan telah selesai di laksanakan, Janoko kini tlah bebas.
Janoko di antar ibunya pulang ke tempat kos nya. Tiba-tiba ia berhenti.
“Bu, aku harus pergi ke sekolah sekarang.”
“Mau apa Noko? Kamu baru pulang dari persidangan.”
“Aku harus menemui seseorang yang penting untuk ku. Aku pergi dulu bu.”
Janoko bergegas menuju ke sekolah.
Hari itu adalah hari dimana acara perpisahan kelas 12 di sekolahnya.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Pulang di sidang dia bergegas ke sekolah, di tengah perjalanan tertabrak mobil pula.
“Nak kamu ngga papa?”
“Ngga papa bu.”
“Eh tapi itu badan kamu pada lecet.”
“Ngga papa bu, udah biasa ko lecet gini.”
“Kamu mau kemana nak, kayak buru-buru gitu,mari ibu antar.”
“Makasih bu, kebetulan saya mau ke sekolah saya.”
“ Dimana sekolah kamu?”
“SMK N 1 BANJAR, ibu tau.”
“Kebetulan, ibu mau kesana.”
Janoko pun pergi kesekolah di antarkan ibu itu.
Sesampainya disana ia berpisah dengan ibu itu, dan langsung pergi ke ruang medic dan meminta P3K pada yang sedang bertugas. Saat sedang di obati, terdengar ada sebuah pengumuman.
“Baiklah, mari kita panggil siswa terbaik tahun ini yang juga menjadi siswa nilai ujian tertinggi. MIRAJANE LUCI FITRIA.”
Janoko terkejut mendengarnya.
Selesai di obati, Janoko langsung menemui MC acara itu.
“Pa, tolong kasih saya sedikit waktu pas hiburan nanti. Saya harus menyampaikan pesan.”
“Baiklah, tapi jangan lama ya.”
Saat tiba waktu hiburan, terdengar Janoko beryanyi.
“Oh bukanlah cantikmu yang ku cari
Bukanlah itu yang aku nanti
Tetapi ketulusan hati yang abadi
Ku tau mawar tak seindah dirimu
Awan ta setakjub tatapanmu
Tetapi kau tau yang ku tunggu
Hanyalah, senyumanmu.”
Mira terkejut Janoko datang, karna dia telah mulai putus asa dengan menghilangnya janoko
“Permintaan dariku pribadi, MIRAJANE LUCI FITRIA tolong naik ke atas panggung.”
Terdengar sorak sorak hadirin yang menyemangati Mira agar naik ke panggung. Dengan malu Mira naik ke atas panggung.
“Aku tau, beberapa saat aku menghilang dari hidupmu
Entah kau membutuhkan ku atau tidak
Kau layaknya air dan aku layaknya rumput yang terinjak
Mungkin kau tak membutuhkan ku
Karna masih banyak tanaman yang menginginkanmu
Namun, aku si rumput tak bisa hidup tanpamu
Kini rumput bertanya,
Maukah kau mengisi hari rumput yang kering tanpamu?”
Mira menjawab
“Air memang bisa kemanapun
Namun, air hanya bisa pergi ke tempat yang lebih rendah
Tapi, rendah tak harus rendahan
Jika memang rumput bisa membuat bahagia air
Mengapa air harus mencari yang lain?
Izinkan air ini menjadi pendamping si rumput
Dan menjadi kekasihmu.”
Mira memeluk erat Janoko dengan tangis haru.


Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar