Hari-hari dilewati Noko dengan kekecewaan yang terkadang membuatnya bersedih. Namun di suatu hari saat pulang sekolah dia melihat Mira sedang terduduk sendiri sambil menangis.
"Teh kenapa nangis, ko sendiri disini, pacarnya kemana?" tanya Noko.
"Aku barusan putus ama pacar aku, dia ngg bisa ngerti keadaan aku gimana. Harusnya dia tau kalo aku tuh sibuk waktuku bukan cuma buat dia aja aku juga punya temen aku juga punya tugas yang harus dikerjain."Jawab Mira sambil tersedu.
Entah apa yang Noko rasakan entah dia harus ikut merasakan kesedihan Mira atau kah dia harus bahagia karna memiliki kesempatan untuk mendapat hati Mira. Noko hanya bisa menghibur Mira dengan sebuah nyanyian.
"Ku berharap engkaulah...
Jawaban... segala risau hatiku..
Dan biarkan, diriku...
Mencintaimu hingga ujung usiaku...
Jika nanti kusanding dirimu..
miliki aku dengan segala kelemahanku...
dan jika nanti engkau disampingku...
jangan pernah letih...
tuk mencintaiku..." Noko menyanyi dengan sepenuh hati berharap Mira mengerti hati Noko.
"udah dong ngg usah sedih terus, kalau emang dia ngga bisa ngerti kamu, mungkin dia emang bukan orang yang tepat buat kamu, toh masih banyak lelaki yang mencintaimu lebih dari dia dan bisa lebih mengerti keadaan kamu, kalau sesuatu hilang darimu sesungguhnya tuhan telah mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang hilang itu." Ucap Noko dengan tulus pada Mira.
" Kamu bener ya Ko, oh iya aku boleh ngga mulai sekarang berangkat ama pulang bareng kamu, kan kita sejalan biar ada temen ngobrol dijalan, kalo kamu butuh bantuan ngerjain tugas bilang aja ya siapa tau aku bisa bantu." Ucap Mira sambil menghapus air matanya.
Janoko merasa senang mendapat tawaran itu dan mereka pun pulang jalan berdua, namun tak sadar sejak tadi ada Palastri yang memperhatikan Janoko yang sedang menghibur Mira.
" Akankah kau lakukan hal yang sama padaku jika aku mengalami kesedihan seperti itu, harusnya kamu tau kalau aku selalu memperhatikanmu, aku yang slalu ada untukmu dan aku yang slalu mencintaimu." Jerit Palastri yang begitu tersakiti.
Datanglah Dante yang melihat Palastri menangis.
" Hey ceup ceup udah ngga usah nangis dong, pasti gara-gara Janoko lagi ya kamu menangis, udahlah ngga usah di rasa biarkan cintamu hilang jika memang dia tak cintaimu dan biarkan orang lain yang mencintaimu membuatmu bahagia." Ujar Dante yang masih berharap Palastri mau menjadi kekasihnya.
Palastri hanya terdiam mengdengarnya dan pergi sambil menangis meninggalkan Dante.
"Sekarang lo tinggalin gue gini aja, tapi nanti bakal gue buat lo ngga bisa hidup tanpa gue."Ucap Dante.
Sebuah cinta buta membawa malapetaka dan dendam yang bisa membawa dosa.
Bersambung...
Kamis, 02 Oktober 2014
Lepaskanlah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar