Jumat, 03 Oktober 2014

Kehormatan


Beberapa minggu setelah Janoko dan Mira semakin akrab sekolah mereka mengadakan sebuah acara pecinta alam di sebuah gunung disana banyak games dan juga mempererat hubungan antar siswa. Pada saat hari pelaksanaan Janoko selalu bersama Mira kemana-mana sampai-sampai mereka di gosipkan pacaran. Palastri semakin sakit hati melihat kedekatan mereka dan Dante selalu berusaha menghibur Palastri.
“Udah jangan di liatin terus, udahlah Noko emang ngga tertarik ama kamu dia lebih tertarik ama teh Mira.”ucap Dante.
“Diem lo ngapain sih lo ngikutin gue terus.”Ujar Palastri yang marah sambil pergi.
Hal ini menyulut kemarahan Dante.
Malam harinya ada kegiatan menjelajah hutan, namun saat acara selesai Dante dan Palastri tak kunjung kembali, Janoko dan beberapa orang lainnya di tugaskan mencari kedua orang itu.
“Janoko, Arif , Ridwan, Asep dan Sani kalian bapak beri tugas untuk mencari Dante dan Palastri kedalam hutan karna kalian yang sudah hapal hutan ini.”Ujar bapak istruktur.
Para pencari mulai berpencar mencari Dante dan Palastri. Setelah beberapa menit berpencar Janoko mendengar suara minta tolong dari dalam hutan, Janoko bergegas mencari asal suara itu yang buatnya tak asing lagi suara itu, saat berlari terlihat sebuah gubuk di tengah hutan dan diduga menjadi asal suara itu dan Janoko pun langsung menuju ke gubuk itu dan terdengar suara.
“Lu mau ngapain sih bawa-bawa gue kesini,pake bawa-bawa piso segala.”suara wanita sambil ketakutan.
“Gua Cuma mau buat lo ngga mau ditinggal ama gua, gua mau lo jadi milik gua seorang. Mending lo diem aja pasrah aja ngga usah ngelawan dari pada gua sakitin lo haha.” Ucapan seorang laki-laki yang bernada jahat.
Si wanita terus-terus minta tolong.
“Slahkan lo minta tolong teriak-teriak ngga akan ada yang denger haha.” Teriak si laki-laki dengan tawa jahatnya.
Janoko datang dan terkejut melihat Dante yang sedang mencoba memperkosa Palastri.
“Woy ngapain lo, gila lo mau ngapain si Lastri.”Teriak Janoko.
“Noko tolong Dante udah gila.” Palastri berteriak sambil menangis.
“Diem lo bangsat lo ngga ngerti rasanya jadi gua, semenjak lo datang gua jadi ngg pernah bisa deket ama palastri, lo kurang puas apa ama si Mira. Mending lo pergi sebelum nih piso nancep di perut lo.”Teriak Dante.
Bukannya pergi Janoko malah mencoba menyelamatkan Palastri dan pertarungan pun terjadi. Janoko yang tidak membawa senjata apapun sedikit kerepotan menghadapi Dante dan mendapat luka sobek di tangannya. Namun Janoko berhasil mengalahkan dante, tak lama Arif datang karna mendengar keributan dan segera membantu Janoko menangkap Dante. Saat sesampainya di perkemahan Dante langsung di bawa ke pihak yang berwajib karna kasus percobaan pembunuhan dan percobaan pemerkosaan. Janoko langsung di bawa ke tenda medic sedangkan Palastri langsung di bawa ke rumah sakit.
Palastri dirawat beberapa hari di Rumah Sakit karna mendapat beberapa luka dan juga trauma karna kejadian yang menimpanya. Saat mendapat kabar Palastri sudah keluar dari Rumah Sakit Janoko megajak Mira untuk kerumah Palastri.
“Aku denger Palastri udah keluar dari Rumah Sakit, mampir ke rumahnya dulu yu.”ajak Janoko pada Mira.
“Cie cie perhatian, ehm ehm ada hati ya hehe.” Sindir Mira.
“Ehh apaan ngga ko, kan dia temen aku trus juga pas seudah kejadian tempo hari dia keliatan shock gitu, mau ngga?” tanya Noko.
“Eumm gitu, aku nyusul aja ya aku nanti mau kumpulan OSIS dulu bentar, nanti aku nyusul kamu. Awas ya jangan nakal.”Ucap Mira.
Akhirnya Janoko pergi sendiri ke rumah Palastri, sesampainya disana ternyata tepat saat orang tua Palastri akan pergi ke luar kota.
“Eh Lastri, kamu udah sehat? Ortu kamu mau kemana?” tanya Janoko.
“Udah lumayan tapi masih agak pusing, ngobrolnya di dalem aja yu ortu aku mau ke luar kota.” Ucap palastri.
Akhirnya mereka melanjutkan pembicaraan di dalam.
“Mau minum apa Noko?” Palastri menawarkan minum
“Apa aja deh.” Ujar Noko.
Saat membuatkan minuman, Palastri membuka kotak obat dan mencampurkan sesuatu ke minuman Janoko, saat meminumnya tiba-tiba janoko tertidur. Palastri membawa Janoko kekamarnya.
“Maafin aku Janoko, aku pengen kamu jadi milik aku seutuhnya, aku rela melepas kehormatanku demi kamu.”Ucap Palastri sambil melepaskan semua pakaiannya.
Apakah ini cinta? Menghalalkan segala cara. Ku rasa bukan ini yang namanya cinta.

Bersambung...


0 komentar:

Posting Komentar