Beberapa minggu setelah Janoko dan Mira semakin akrab
sekolah mereka mengadakan sebuah acara pecinta alam di sebuah gunung disana
banyak games dan juga mempererat hubungan antar siswa. Pada saat hari
pelaksanaan Janoko selalu bersama Mira kemana-mana sampai-sampai mereka di
gosipkan pacaran. Palastri semakin sakit hati melihat kedekatan mereka dan
Dante selalu berusaha menghibur Palastri.
“Udah jangan di liatin terus, udahlah Noko emang ngga
tertarik ama kamu dia lebih tertarik ama teh Mira.”ucap Dante.
“Diem lo ngapain sih lo ngikutin gue terus.”Ujar Palastri
yang marah sambil pergi.
Hal ini menyulut kemarahan Dante.
Malam harinya ada kegiatan menjelajah hutan, namun saat
acara selesai Dante dan Palastri tak kunjung kembali, Janoko dan beberapa orang
lainnya di tugaskan mencari kedua orang itu.
“Janoko, Arif , Ridwan, Asep dan Sani kalian bapak beri
tugas untuk mencari Dante dan Palastri kedalam hutan karna kalian yang sudah
hapal hutan ini.”Ujar bapak istruktur.
Para pencari mulai berpencar mencari Dante dan Palastri.
Setelah beberapa menit berpencar Janoko mendengar suara minta tolong dari dalam
hutan, Janoko bergegas mencari asal suara itu yang buatnya tak asing lagi suara
itu, saat berlari terlihat sebuah gubuk di tengah hutan dan diduga menjadi asal
suara itu dan Janoko pun langsung menuju ke gubuk itu dan terdengar suara.
“Lu mau ngapain sih bawa-bawa gue kesini,pake bawa-bawa piso
segala.”suara wanita sambil ketakutan.
“Gua Cuma mau buat lo ngga mau ditinggal ama gua, gua mau lo
jadi milik gua seorang. Mending lo diem aja pasrah aja ngga usah ngelawan dari
pada gua sakitin lo haha.” Ucapan seorang laki-laki yang bernada jahat.
Si wanita terus-terus minta tolong.
“Slahkan lo minta tolong teriak-teriak ngga akan ada yang
denger haha.” Teriak si laki-laki dengan tawa jahatnya.
Janoko datang dan terkejut melihat Dante yang sedang mencoba
memperkosa Palastri.
“Woy ngapain lo, gila lo mau ngapain si Lastri.”Teriak
Janoko.
“Noko tolong Dante udah gila.” Palastri berteriak sambil
menangis.
“Diem lo bangsat lo ngga ngerti rasanya jadi gua, semenjak
lo datang gua jadi ngg pernah bisa deket ama palastri, lo kurang puas apa ama
si Mira. Mending lo pergi sebelum nih piso nancep di perut lo.”Teriak Dante.
Bukannya pergi Janoko malah mencoba menyelamatkan Palastri dan
pertarungan pun terjadi. Janoko yang tidak membawa senjata apapun sedikit
kerepotan menghadapi Dante dan mendapat luka sobek di tangannya. Namun Janoko
berhasil mengalahkan dante, tak lama Arif datang karna mendengar keributan dan
segera membantu Janoko menangkap Dante. Saat sesampainya di perkemahan Dante
langsung di bawa ke pihak yang berwajib karna kasus percobaan pembunuhan dan
percobaan pemerkosaan. Janoko langsung di bawa ke tenda medic sedangkan
Palastri langsung di bawa ke rumah sakit.
Palastri dirawat beberapa hari di Rumah Sakit karna mendapat
beberapa luka dan juga trauma karna kejadian yang menimpanya. Saat mendapat
kabar Palastri sudah keluar dari Rumah Sakit Janoko megajak Mira untuk kerumah
Palastri.
“Aku denger Palastri udah keluar dari Rumah Sakit, mampir ke
rumahnya dulu yu.”ajak Janoko pada Mira.
“Cie cie perhatian, ehm ehm ada hati ya hehe.” Sindir Mira.
“Ehh apaan ngga ko, kan dia temen aku trus juga pas seudah
kejadian tempo hari dia keliatan shock gitu, mau ngga?” tanya Noko.
“Eumm gitu, aku nyusul aja ya aku nanti mau kumpulan OSIS
dulu bentar, nanti aku nyusul kamu. Awas ya jangan nakal.”Ucap Mira.
Akhirnya Janoko pergi sendiri ke rumah Palastri, sesampainya
disana ternyata tepat saat orang tua Palastri akan pergi ke luar kota.
“Eh Lastri, kamu udah sehat? Ortu kamu mau kemana?” tanya
Janoko.
“Udah lumayan tapi masih agak pusing, ngobrolnya di dalem
aja yu ortu aku mau ke luar kota.” Ucap palastri.
Akhirnya mereka melanjutkan pembicaraan di dalam.
“Mau minum apa Noko?” Palastri menawarkan minum
“Apa aja deh.” Ujar Noko.
Saat membuatkan minuman, Palastri membuka kotak obat dan
mencampurkan sesuatu ke minuman Janoko, saat meminumnya tiba-tiba janoko
tertidur. Palastri membawa Janoko kekamarnya.
“Maafin aku Janoko, aku pengen kamu jadi milik aku
seutuhnya, aku rela melepas kehormatanku demi kamu.”Ucap Palastri sambil
melepaskan semua pakaiannya.
Apakah ini cinta? Menghalalkan segala cara. Ku rasa bukan
ini yang namanya cinta.
Bersambung...






0 komentar:
Posting Komentar