Hari ujian Mira tiba, ia dan Janoko tak akan melakukan
komunikasi apapun dengan Janoko dengan alasan agar tidak mengganggu konsentrasi
Mira.
Awalnya Janoko berniat untuk pulang kampung, namun saat dia
akan keluar rumah tiba-tiba ada 2 orang polisi mencegatnya.
“Ada apa pak?”Tanya Janoko.
“Cepat ikut kami ke kantor, anda di duga bersalah dalam
kasus penganiayaan terhadap anak hakim.”Ujar polisi.
Janoko dengan pasrah ikut ke kantor polisi, tanpa memberi
tau Mira.
Di kantor polisi ia bertemu dengan orang yang ia hajar.
“Busuk-busuk lo di penjara.”Ujar orang itu sambil tertawa.
Janoko hanya bisa terdiam dan berfikir bagaimana caranya
supaya dia bisa bebas dari jeratan hukum. Tak lama Sembadra datang menemuinya.
“Noko, kamu ngga papa kan?” Tanya Ara sambil menangis.
“Aku ngga papa ko Ra. Cuma sekarang aku lagi bingung aja
gimana caranya biar aku bisa dinyatakan tidak bersalah.”
“Pa, Janoko di tangkap karna kasus apa pa?” tanya Ara pada
Polisi.
“Dia di duga melakukan tindak kekerasan pada saudara Tyo
Waluyo dan percobaan pemerkosaan terhadap saudara Sembadra Putri Istiqomah dan
laporan ini di berikan oleh saudara Tyo Waluyo sebagai korban dan saksi di
dampingi oleh ayahnya.” Ujar pa Polisi.
Ara terkejut mendengar pernyataan polisi yang berkata
percobaan pemerkosaan.
“Noko, aku pulang dulu. Aku usahakan kamu bakal segera bebas
ya.” Pamit ara.
Ara bergegas pulang ke rumah dan berunding dengan ibunya.
Tak lama setelah ia membicarakan hal yang menimpa Janoko, ia meminta ayahnya
yang seorang pengacara segera pulang dari kantornya untuk menjadi pengacara
Janoko.
Setibanya di rumah,
Ara langsung mengajak ayahnya ke kantor polisi untuk mengadakan penyelidikan
kasus untuk membela Janoko.
Di lain pihak Tyo yang tak mengetahui bahwa Ara yang ia kira
akan pergi ke luar kota karna urusan sekolah ternyata tidak jadi pergi. Di
rumahnya, ia mengundang teman-temannya untuk berpesta merayakan kemenangan
memasukan Janoko ke penjara.
“ Hahaha ngga tau dia siapa gue, berani-beraninya dia nyari
masalah ama gue. Di persidangan nanti bokap gue bakal bikin dia ngebusuk di
penjara. Hahaha.” Tawa Tyo.
Ara dan ayahnya terus mendalami kasus itu, beberapa hari
Janoko mendekam di penjara. Dia hanya bisa terus berdoa dan tidak berani
memberi kabar pada orang tua nya mengenai apa yang terjadi pada dirinya.
Saat Ara pulang dari penyelidikan, ada seorang temannya
menunggu di rumah.
“Eh Tina, tumben main. Masuk yu ngga enak di luar.”
Ara dan Tina melanjutkan percakapannya di dalam rumah.
“Ra ada hal penting yang harus aku sampaikan. Sebenarnya pas
kamu hampir di perkosa aku sembunyi dan liat kejadian itu, mungkin aku bisa
bantu kamu ngebebasin temen kamu dari masalah.”
Sebuah titik terang telah datang.
“Yah, aku dapet kabar bagus. Temen aku ada yang liat
kejadian itu dan katanya ia mau bantu, apa dia bisa jadi saksi yah?”
“Bagus lah, tentu saja bisa. Ayah mau ketemu dia besok bisa ngga,
persidangan udah tinggal beberapa minggu lagi.”
Teman Ara menyanggupi permintaan ayah Ara.
Ujian Mira telah selesai dilaksanakan. Dia bermaksud untuk
menemui Janoko di Kost-annya.
Mira bingung saat tiba di Kost-annya ia tidak menemukan
siapapun disana, coba Mira hubungi ponselnya pun tidak ada jawaban.
Mira pulang dengan gundah karna semenjak ujiannya selesai
Janoko tidak memberi kabar apapun padanya.
Bersambung...






0 komentar:
Posting Komentar