Kamis, 09 Oktober 2014

Istirahat


Palastri pergi dengan perlahan, di tengah hujan ia menangis seolah tak di hargai keberadaannya. Janoko dan Mira malah asik-asikan pulang bersama.
Palastri seolah kehilangan semangat saat melihat mesranya Mira dan Janoko, seolah pupus semua harapan miliknya. Di tengah perjalanan ia seolah melihat sosok adiknya yang sudah meninggal sedang menangis di tengah jalan, seketika ia pun menghampiri.
Namun saat da menghampiri, tiba-tiba si anak kecil menghilang. Seketika Lastri terkejut melihat kejadian itu. Hujan semakin deras, tak sadar dari kejauhan ada sebuah truk yang ngebut dan...
Seketika Palastri tewas di tempat .
Ke esokan harinya Janoko dan Mira masih ceria-ceria saja seperti biasa, namun saat Janoko sampai di kelas ternyata wali kelas sudah menunggu dan memberi pengumuman.
“ Kabar duka datang dari keluarga kelas kita. Sahabat kita, teman kita Palastri. Kemarin meninggal dunia saat perjalanan pulang sekolah.”Ucap ibu wali kelas dengan mata yang sudah memerah.
Janoko terdiam, air mata tak sadar keluar dari matanya.
“Ngga mungkin bu,kemarin juga kita pulang bareng ama aku ama Mira, masa dia sekarang udah ngga ada.”Tutur Janoko dengan air mata kesedihan teramat dalam.
“Ini bener Noko, saat pulang sekolah kemarin ia tertabrak mobil. Rencananya nanti jam 8 semua guru dan siapa saja yang mau ikut melayat akan menghadiri pemakamannya.” Ujar Ibu wali kelas.
Janoko memutuskan untuk ikut ke pemakaman Palastri.
Saat pemakaman berlangsung Janoko terlihat teman Palastri yang paling sedih ketika Palastri meninggal.
“Kau adalah teman terbaik yang pernah ku miliki, kau adalah selimut di tengah badai salju, kau laksana air di tengah kekeringan. Selamat tinggal sahabat. Istirahatlah doa ku menyertai kepergianmu,semoga tuhan menerima semua amal perbuatanmu dan mengampuni segala dosamu.” Ucap Janoko dalam tangisnya.
Malam setelah pemakaman itu Janoko tak bisa tidur terus terbayang kenangan bersama Palastri dan saat terakhirnya melihat Palastri.
“Harusnya kemarin kita pulang bertiga, tapi aku egois terlalu mikirin Mira.” Sesal Janoko.
Rasa bersalah terus menghantui Janoko seolah dia penyebab terjadinya insiden itu.
Hari – hari berlalu di temani kesedihan dan rasa bersalah. Setiap pulang sekolah Janoko selalu mampir ke Makam Palastri sambil membawa bunga, setiap hari di sekolah pun dia terlihat murung. Hingga suatu hari saat di kelas tiba-tiba Mira datang dan menampar Janoko.
“Lo kenapa bego?” Ucap Mira dengan penuh amarah.
“Aku ? aku hanya .... aku tak tau aku kenapa.”ucap Noko dengan bimbang.
“Lo bukan Janoko , beberapa hari ini gua liat lo gini terus, gua ngga tahan liat lo gini, lo sadar ngga sih Palastri juga ngga mau liat lo gini, dia mau lo bahagia, dia selalu suka liat lo yang ceria, bukan lo yang gini. Gua lebih tersiksa lagi ngga bisa ngapa-ngapain liat orang yang gua sayang sedih terus-terusan, lo ngerasa bersalah gitu atas meninggalnya Palastri? Lo bodoh kalo lo mikir gitu, yang bikin dia Meninggal tuh bukan lo, tapi emang udah waktunya dia di ambil ama tuhan.”Ucap mira dengan air mata menetes dari matanya.
Mira pergi dari kelas sambil menangis, Janoko hanya terdiam.
Pada malam itu ia berdoa pada tuhan.
“Tuhan, apa yang aku lakukan hingga ku rasakan kepedihan ini, kenapa tak kau ambil nyawaku sekalian, mengapa kau berikan rasa bersalah teramat dalam di hati ini tuhan, aku tau apapun yang kau berikan pada ku pasti kau memiliki maksud yang lebih baik. Semoga segera kau menjawab doa ini tuhan. Amin.” Tangisnya dalam doa.
Tak seperti biasanya setelah berdoa Janoko merasa sangat ngantuk. Dalam tidurnya seolah ia melihat seorang wanita dan dia menghampirinya.
“ Sepertinya aku mengenalmu.” Ujar Janoko.
Wanita itu berbalik, Janoko terkejut itu adalah Palastri.
“Noko, kamu ngga harus sedih atas terpisahnya kita, kamu ngga salah memang sudah waktuku untuk meninggalkan mu, aku seneng aku bisa mengungkap hati ini buat kamu, jaga siapapun orang yang menyayangimu ya Janoko. Jangan kecewain dia.”Ujar wanita dalam mimpi Janoko.
Janoko pun terbangun dan tersenyum.
“Kau begitu cepat menjawab doa’ku tuhan.”ucap Janoko.
Janoko kembali ceria seperti biasanya.


Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar