Palastri pergi dengan perlahan, di tengah hujan ia menangis seolah tak di hargai keberadaannya. Janoko dan Mira malah asik-asikan pulang bersama.
Palastri seolah kehilangan semangat saat melihat mesranya
Mira dan Janoko, seolah pupus semua harapan miliknya. Di tengah perjalanan ia
seolah melihat sosok adiknya yang sudah meninggal sedang menangis di tengah
jalan, seketika ia pun menghampiri.
Namun saat da menghampiri, tiba-tiba si anak kecil
menghilang. Seketika Lastri terkejut melihat kejadian itu. Hujan semakin deras,
tak sadar dari kejauhan ada sebuah truk yang ngebut dan...
Seketika Palastri tewas di tempat .
Ke esokan harinya Janoko dan Mira masih ceria-ceria saja
seperti biasa, namun saat Janoko sampai di kelas ternyata wali kelas sudah
menunggu dan memberi pengumuman.
“ Kabar duka datang dari keluarga kelas kita. Sahabat kita,
teman kita Palastri. Kemarin meninggal dunia saat perjalanan pulang sekolah.”Ucap
ibu wali kelas dengan mata yang sudah memerah.
Janoko terdiam, air mata tak sadar keluar dari matanya.
“Ngga mungkin bu,kemarin juga kita pulang bareng ama aku ama
Mira, masa dia sekarang udah ngga ada.”Tutur Janoko dengan air mata kesedihan
teramat dalam.
“Ini bener Noko, saat pulang sekolah kemarin ia tertabrak
mobil. Rencananya nanti jam 8 semua guru dan siapa saja yang mau ikut melayat
akan menghadiri pemakamannya.” Ujar Ibu wali kelas.
Janoko memutuskan untuk ikut ke pemakaman Palastri.
Saat pemakaman berlangsung Janoko terlihat teman Palastri
yang paling sedih ketika Palastri meninggal.
“Kau adalah teman terbaik yang pernah ku miliki, kau adalah
selimut di tengah badai salju, kau laksana air di tengah kekeringan. Selamat
tinggal sahabat. Istirahatlah doa ku menyertai kepergianmu,semoga tuhan
menerima semua amal perbuatanmu dan mengampuni segala dosamu.” Ucap Janoko
dalam tangisnya.
Malam setelah pemakaman itu Janoko tak bisa tidur terus
terbayang kenangan bersama Palastri dan saat terakhirnya melihat Palastri.
“Harusnya kemarin kita pulang bertiga, tapi aku egois
terlalu mikirin Mira.” Sesal Janoko.
Rasa bersalah terus menghantui Janoko seolah dia penyebab
terjadinya insiden itu.
Hari – hari berlalu di temani kesedihan dan rasa bersalah.
Setiap pulang sekolah Janoko selalu mampir ke Makam Palastri sambil membawa
bunga, setiap hari di sekolah pun dia terlihat murung. Hingga suatu hari saat
di kelas tiba-tiba Mira datang dan menampar Janoko.
“Lo kenapa bego?” Ucap Mira dengan penuh amarah.
“Aku ? aku hanya .... aku tak tau aku kenapa.”ucap Noko
dengan bimbang.
“Lo bukan Janoko , beberapa hari ini gua liat lo gini terus,
gua ngga tahan liat lo gini, lo sadar ngga sih Palastri juga ngga mau liat lo
gini, dia mau lo bahagia, dia selalu suka liat lo yang ceria, bukan lo yang
gini. Gua lebih tersiksa lagi ngga bisa ngapa-ngapain liat orang yang gua
sayang sedih terus-terusan, lo ngerasa bersalah gitu atas meninggalnya
Palastri? Lo bodoh kalo lo mikir gitu, yang bikin dia Meninggal tuh bukan lo,
tapi emang udah waktunya dia di ambil ama tuhan.”Ucap mira dengan air mata
menetes dari matanya.
Mira pergi dari kelas sambil menangis, Janoko hanya terdiam.
Pada malam itu ia berdoa pada tuhan.
“Tuhan, apa yang aku lakukan hingga ku rasakan kepedihan
ini, kenapa tak kau ambil nyawaku sekalian, mengapa kau berikan rasa bersalah
teramat dalam di hati ini tuhan, aku tau apapun yang kau berikan pada ku pasti
kau memiliki maksud yang lebih baik. Semoga segera kau menjawab doa ini tuhan.
Amin.” Tangisnya dalam doa.
Tak seperti biasanya setelah berdoa Janoko merasa sangat
ngantuk. Dalam tidurnya seolah ia melihat seorang wanita dan dia
menghampirinya.
“ Sepertinya aku mengenalmu.” Ujar Janoko.
Wanita itu berbalik, Janoko terkejut itu adalah Palastri.
“Noko, kamu ngga harus sedih atas terpisahnya kita, kamu
ngga salah memang sudah waktuku untuk meninggalkan mu, aku seneng aku bisa
mengungkap hati ini buat kamu, jaga siapapun orang yang menyayangimu ya Janoko.
Jangan kecewain dia.”Ujar wanita dalam mimpi Janoko.
Janoko pun terbangun dan tersenyum.
“Kau begitu cepat menjawab doa’ku tuhan.”ucap Janoko.
Janoko kembali ceria seperti biasanya.
Bersambung...






0 komentar:
Posting Komentar