Ara dan ayahnya terus mencari bukti untuk membebaskan
Janoko. Pada saat itu Mira belum membuat laporan untuk kasus Tyo.
Hari demi hari dilewati Janoko di balik jeruji besi.
Seminggu sebelum persidangan, Janoko menulis sebuah surat untuk ibunya.
“Bu, saat ini Janoko sedang menghadapi sebuah ujian yang
begitu sulit sehingga Janoko tidak bisa pulang. Janoko sadar Janoko bukanlah
anak yang baik yang bisa selalu membanggakan ibu, tapi Janoko akan selalu
berusaha membuat ibu bangga, tolong doakan Janoko ya bu suapaya bisa melewati
segala ujian ini. Janoko Sayang Ibu.”
Sepintas surat singkat yang ia titipkan kepada Ara. Ibu
Janoko hanyalah pedagang jajanan pasar yang sudah lama menjanda dan hidup
bersama adik Janoko, ibunya termasuk sangat sabar karna kelakuan Janoko yang
memang sering membuat masalah. Ibunya sadar dia seperti itu karna kesalahannya
yang kurang bisa mendidik nya.
Sesampainya Ara di rumah Janoko.
“Permisi...”
“Iya tunggu sebentar, eh ada Ara. Tumben main Ra, silahkan
masuk dulu.”
“Iya bu. Bu ini aku dapet titipan surat dari Janoko ih bu.”
“Oh gitu, cba ibu baca suratnya.”
Ibunya membaca surat itu dengan sedikit perasaan gundah,
karna tak biasanya Janoko mengirim surat.
“Ara tolong jawab jujur.
Ada masalah apa Janoko?”
“Anu...aku ngga tau bu.”
“Jujur aja ra, ibu tau kamu ngga bisa bohong. Janoko ngga
biasanya ngirim surat isinya kaya gini pula.”
“Euuumm. Sebenernya Janoko sekarang di penjara bu.”
“Apa,,,,,,,,,, Kenapa ?Dia buat salah apa?”
“Janoko ngga salah bu, justru Janoko selametin aku. Tapi
Janoko do fitnah, sekarang ayah lagi memperdalam kasus ini supaya Janoko bisa
di vonis tidak bersalah . Sidangnya tanggal 21 Mei di pengadilan di kota.
Tolong doa nya ya bu. Sekarang Ara pamit dulu.”
Ara pergi meninggalkan ibu Janoko. Ibunya hanya bisa terus
berdoa setiap hari.
Hari persidangan tiba. Janoko merasa pasrah akan nasibnya
karna dia memang merasa bersalah karna menghajar Tyo sampai pingsan.
Tyo merasa kemenangan sudah di tangannya karna ayahnya sudah
meminta kepada hakim temannya agar memenangkan
anaknya.
Saat persidangan akan dimulai, tiba-tiba Ara datang bersama
ayahnya. Tyo tak tau Ara masih di kota dan menjadi saksi. Tyo hampir pingsan
saat ternyata ada saksi lain, ibu Janoko yang datang dan duduk paling belakang
terus berdoa untuk anaknya.
Sidang di mulai, saat pembacaan saksi di mulai keadaan mulai
sedikit ricuh karna Tyo terus-terusan menyangkalnya. Ayahnya pun tertunduk malu
karna melaporkan kasus itu.
Pada saat persidangan hampir di tutup, Ara menyampaikan
kesaksian dan juga pengaduan dan membuat Tyo semakin panik.
“Saya Sembadra Putri Istiqomah akan menyampaikan kesaksian
dan mengajukan pelaporan . Janoko tidak bersalah, justru dia yang menyelamatkan
saya saat saya hampir di perkosa oleh Tyo Waluyo. Atas dasar kasus ini saya
melaporkan Tyo Waluyo terhadap pihak yang berwajib atas pasal percobaan
pemerkosaan.”
Tyo terus-terusan berteriak
“aku ngga salah...aku ngga salah....”
Ayahnya tertunduk malu.
Akhirnya hakim memutuskan Janoko tak bersalah dan juga
menetapkan Tyo yang bersalah.
Janoko sangat berterima kasih pada Ara dan yang lainnya
karna telah membantunya.
“Noko ada yang pngn ketemu kamu,ikut aku bentar yu.”
“Kemana Ra,... “
Janoko terkejut.
“Ibu... Maafin Janoko bu, terus bikin masalah buat ibu.
Makasih ibu baca surat Janoko dan kasih doa buat Noko.”
“Kamu melakukan hal yang benar nak.”
Tangis haru terasa menyayat hati ketika doa seorang ibu
menyelamatkan anaknya dari kejahatan.
Bersambung...






0 komentar:
Posting Komentar